Menu

DERFAFU.BLOGSPOT.COM

DERFAFU.BLOGSPOT.COM

Coba Sejenak Melihat Ke Arah Lain

Wahai kalian pejuang legalitas ganja, wahai kalian pejuang LGBT dan segala rentetan permasalahan modern. Di sini di desa yang bahkan tidak terlalu terpencil. Akses mudah kemana saja, informasi bisa didapat dari mana saja. Masih ada kemiskinan yang belum tertuntaskan. Aku hanyalah orang ketiga yang menuliskan dan menggambarkan kejadian yang ada pada sekitarku.

Di Dusun ini ( kebetulan kalau di kabupaten masih menggunakan istilah dusun dan desa, beda dengan kota ) terdapat berbagai macam orang. Ada yang terlanjur kaya karena giat bekerja, ada yang memang kaya dari turunan sebelumnya, ada yang baru memulai hidup dari nol, ada yang miskin ada yang kelewat miskin. Semua ada pada dusun itu. Tidak hanya status sosial ( dilihat dari meteri ) tetapi juga ada macam- macam orang seperti ex-pelacur, bandar togel, bandar narkoba, pengemis, pengamen, penjual bubur, penjahit, buruh tani, pengusaha kecil, pengusaha besar, lintah darat, arsitek sampai haji pun ada. Semua hidup rukun disini.


Bukan hendak menceritakan tentang keberagaman yang hidup rukun tetapi, melirik sedikit ke cara mereka mencari uang atau bahkan sesuap nasi. Di jaman modern ini masih saja ada orang yang makan saja ia tak mampu tetapi ia tetap tidak ingin berusaha dan hanya mengandalkan rasa belas kasihan dari orang lain, ia mendapatkan lauk atau sayur dengan mencari di halaman- halaman rumah orang atau dengan meminta ke tetangga yang ia rasa lebih mampu. Apakah orang seperti itu tidak melihat, diluar sana banyak pejabat yang rela mempermalukan diri demi membahagiakan istri, anak dan cucu degan cara korupsi, apa dia tidak melihat diluar sana banyak orang yang berusaha membanting tulang bekerja siang malam demi memiliki mobil  pribadi atau tidakkah ia sedikit melirik orang yang bekerja kepanasan oleh terik matahari demi membeli beras dengan menjadi buruh tani???. Tidak, aku tidak menyalahkanmu seutuhnya. Tetapi itu bisa menjadikan suatu contoh bisa membuatku sangat bersyukur terhadap apa yang aku miliki. Tapi disisi lain, ada orang yang sudah bergelimang harta, anak- anak sudah bekerja menjadi abdi negara, bahkan ia sudah berhaji, tetapi untuk membagii listrik kepada tetangganya yang buta dan sebatang kara saja diwajibkan untuk membayar. Belum lagi kesombongan dan ketidak pedulian terhadap orang tuanya yang menjadi kembang mbayang ( sakit sampai tidak dapat bangun dari tempat tidur ). Aaahh bukan bermaksud bergosip tentang keburukan orang lain. Tapi hanya melihat dari sisi negatif saja. Begitu kentara perbedaan ekonomi tersebut. Sebagai orang ketiga, apa yang seharunya aku perbuat dengan aanya seperti itu?? apa aku harus memberi pekerjaan pada orang miskin itu? atau aku harus menceramahi haji itu supaya hidup lebih baik dan tidak menjadi bahan pembicaraan para tetangga??. Entahlah~

Tadinya aku hanya ingin berbagi cerita kepada teman- teman yang juga kebanyakan adalah orang metropolitan yang mungkin jarang atau bahkan tidak mengetahui hal seperti ini. Aku hanya ingin mengajak temen- teman sekalian untuk melihat atau sekedar menengok keberadaan dan keadaan orang- orang di sekitar. Andai aku ibu peri yang bisa merubah segala keadaan, akan aku rubah semua kekurangan, kemiskinan, penindasan dan semua kemanusiaan lainnya. Yah semua hanya ada dalam angan.

No comments:

Post a Comment